Tugas 1 Shokyuu Class – Bebenah Pakaian (Tidying Clothes)

This writing is written in Bahasa for Community purpose. You can use widget google translate to read this post.

Minggu lalu di kelas Shokyuu – KonMari Indonesia (@konmariindonesia).

Waktunya mengerjakan tugas bebenah pakaian dan belajar melipat pakaian hasil seleksi kami masing-masing. Setelah itu, kami juga harus mengatur sedemikian rupa barang yang ada di lemari kami dengan wadah-wadah bertema konmari dengan memanfaatkan barang yang ada, atau yang mudah didapatkan di sekitar kita. Baju, celana, aksesoris, sepre. Selain itu, sepatu juga termasuk dalam “pakaian”. Tugas ini dijamin membuat banyak ibu-ibu dan bapak (hanya ada satu bapak di kelas kami), berdiam di rumah dan “kencan melipat”.

Berbagai persiapan sudah dilakukan, namun ada satu yang sebenarnya butuh waktu untuk saya. Yaitu memberanikan diri untuk bebenah.

Saya terus terang takut. Takut karena ini bukan yang pertama kalinya saya bebenah “besar-besaran” dan menganggap ini akhir dari semuanya. Namun ternyata beberapa waktu kemudian, saya lagi-lagi kembali ke kondisi berantakan. Stress rasanya. Ketika mau memulai, saya juga terbayang hal-hal yang membuat saya “menyerah” bebenah, takut mengecewakan diri sendiri dan tentunya pasangan saya yang sudah banyak mendukung proses bebenah saya yang berkali-kali itu.

Maka dari itu, saya banyak berharap, setelah mempelajari metode KonMari ini, saya tidak akan pernah kembali ke kondisi berantakan lagi. This has to end.

Walaupun tugas bebenah pakaian baru ada minggu ini, saya sebenarnya sudah “colongan” untuk memulai dari minggu lalu. Saya sampai mengajukan cuti untuk ini. Mengapa? Karena saya ingin mengecek kemampuan Joy Check saya. Mengingat saya sering gagal sebelumnya. Dan saya takut waktunya terbatas, kebetulan saya harus keluar kota juga di minggu ini. Dan benar saja, untuk baju anak, aksesoris, sepatu saya kejar-kejaran dengan waktu.

Saya memulai mengeluarkan baju-baju saya dari lemari. Awalnya baju saya berjejalan dan untuk menariknya pun susah. Gantungan-gantungan baju bersesakan dan sulit menarik satu dari yang lainnya. Kondisinya ketika baju digantung, bagaikan PASIR HISAP. Ketika dimasukkan ke barisan gantungan, baju itu akan “hilang” dan sulit saya tarik lagi :D.

Baju saya tersebar di 2 lemari. Ya, ada 2 lemari di kamar saya, tapi lemari yang satu lagi lebih banyak untuk baju suami saya saat ini, dan tas serta koper-koper travelling. Saya sama sekali tidak suka melihat barang tidak punya “rumah” jadi koper pun masuk ke dalam lemari. Bahkan tas laptop dan suami yang sehari-hari saya bawa pergi. Saya juga tidak berkomitmen untuk melipat ala KonMari sebelumnya, sayang karena saya memulai duluan, foto kondisi lemari sebelum di keluarkan, saya foto saat proses collecting (pengumpulan barang di tengah-tengah) sudah ½ jalan.

IMG_2826

Saat proses collecting di 3 lemari (yak! 3 lemari), lagi-lagi saya mengalami sesak mendadak. Haha. Napas saya jadi berat.

Pakaian saya banyak sekali. Siap-siap tarik napas melihat gambar ini.

Padahal saya sudah berkali-kali decluttering, mengikutkan baju untuk bazaar, dihibahkan, disedekahkan, dikirimkan ke saudara, ternyata masih banyak juga. Amazing!

Ok, saya menyiapkan diri dengan supplemen minuman dan makanan favorit, menyalakan musik yang tenang. Lama-lama saya terbawa musik tenang tersebut dan mendadak saya merasa tidak “bahagia” sama sekali malah cenderung mellow. Sulit menemukan mana yang Sparks Joy. Akhirnya saya ganti dengan musik medium beat. Lalu lancar lah proses pemilihan Sparks Joy tersebut. Satu per satu dengan mantap saya masukkan ke kotak Not Joy (Trash), sekitar 2-3 pcs di kantung need repair, 3 buah pakaian sentimental (yang saya tidak share karena malu :D), hanya 1 kotak Joy.

IMG_2681

Ini hasil seleksi barang yang Joy. Kotak Joy-nya tertimbun di antara baju-baju karena kotak Joy saya terisi oleh barang2 lain seperti sepre dan sebagainya dan kotaknya juga kecil.

img_2827.jpg

Kebetulan baju-baju Not Joy yang masih layak pakai langsung diserbu adik-adik ipar saya dan hampir habis dalam waktu sehari.

Saya membutuhkan waktu yang lama sekali untuk ini. Kira-kira 12 jam saya habiskan untuk memikirkan Sparks Joy atau tidak. Termasuk angkut-angkut dan lipat-lipat (belum ala KonMari) lalu membereskan untuk dilanjutkan besoknya.

Esoknya, saya mencoba melipat ala KonMari dan masih trial error. Ternyata tidak gampang ya. Karena kategori baju yang lumayan bervariasi (walaupun tidak banyak), bahan. Dan juga frekuensi penggunaannya, saya harus memikirkan barisan mana yang paling mudah diakses dan berapa lebar rata-rata setelah dilipat untuk dijajarkan bersama. Wow!

Sedangkan, lemari saya cuma memiliki dua laci. Saya ingin baju-baju saya muat semua di satu lemari dahulu. Jika terpaksa, baru pindah lagi ke lemari suami. Proses melipat KonMari pun saya lakukan satu persatu. Kenyataannya, memang baju saya cukup di satu lemari.

Ini contoh lipatan saya untuk baju sendiri.

Di minggu lalu saya menyempurnakan lipatan, mengatur ulang susunan baju-baju, dan merambah ke aksesoris, sepre dan handuk dan begini before-after-nya. Kebetulan sepre dan handuk kami tidak satu tempat dengan lemari. Mengingat kami kadang minta tolong mbak di rumah untuk ganti seprai, jadi dia bisa ambil sendiri tanpa akses yg sama ke barang-barang pribadi:

Setelah selesai mengorganisasi lemari ala KonMari, hasilnya adalah seperti ini.

IMG_2845.JPGSekarang koper saya muat masuk lemari. Hore!

Seluruh koleksi jilbab dan dalaman saya juga masuk ke satu laci, dan tas saya tidak berjejalan kacau balau lagi.

Pulang kantor, saya menyempatkan diri ke ikea untuk membeli kotak-kotak dengan shelf units untuk membuktikan teori yang baru saya buat tadi pagi. Saya tidak ingin menunda-nunda karena deadline kerjaan sebagai karyawan dan ibu rumah tangga sama-sama banyak di minggu ini. menurut saya dan suami ini paling simple, durable, cost efficient. Maka saya mantapkan langkah saya menuju ikea dari lokasi meeting yang tidak terlalu jauh untuk membeli kotak dan ambalan trofast. Untung lah suami saya sigap dengan peralatannya dan langsung mengerjakannya dalam waktu 30 menit saja!

IMG_2835

(Warna baju saya tidak senada, menunjukkan saya ini tidak memiliki warna favorit :)) Perlu belajar lagi agar foto instagrammable. Tapi percaya lah ini jauh lebih rapi dari sebelumnya, dan sekarang baju saya hanya ada di satu lemari).

Ini adalah box main anak saya, tapi saya menambah 2 lagi. Box ini bisa diganti dengan box lainnya, tapi saya menambah box ini karena kekuatannya. Mungkin review tentang ini sebaiknya saya post di tugas berikutnya, karena tugas berikutnya adalah tentang storage. Saat ini box berfungsi untuk underwears dan pajamas.

Setelah selesai dengan barang saya, saya melanjutkan ke lemari anak saya. Ini juga sama, karena saya “colongan” duluan, saya lupa memfoto tumpukan baju yang belum disortir, jadi saya poto 1/2 jalan proses pengumpulan.

IMG-2825

Ini berantakan sekali, disclaimer on ya karena saya jarang kesini dan baju anak saya tersebar dimana-mana. Mbak di rumah yang bolak balik inisiatif “merapikan” tapi ternyata gak ada rapi-rapinya. Hehe. Saya pun shock pas buka lemari.

Baju anak saya juga jumlahnya buanyak sekali. Saya bingung padahal anak saya baru satu, tapi kalau orang lain lihat tumpukan baju anak saya, mungkin saya disangka punya anak tiga. Baju sewaktu anak saya masih bayi, sebelumnya saya jejalkan di vacuum bag tanpa disortir sama sekali. Saya pikir semua pasti akan terpakai lagi. Tapi setelah saya keluarkan, dan perhatikan satu-satu, sepertinya saya pun tidak ingin anak kedua saya nanti akan pakai baju itu lagi. Begitupun dengan lap iler, bib dan kaos kaki pemberian yang satu paket, yang mana motifnya sama sekali tidak saya sukai. Dengan mantap saya memindahkan baju bayi yang masih Sparks Joy ke satu container terpisah untuk selanjutnya saya vacuum dengan lebih tertata, dan menyingkirkan yang tidak Sparks Joy sama sekali.

Ini adalah container yang isinya pakaian bayi, saya pisahkan dari lemari utama, dan akan divacuum karena saya berencana hamil lagi dalam waktu dekat 🙂

IMG_2828

Akhirnya hanya tersisa baju-baju yang memang seringnya anak saya pakai. Selama beberapa hari anak saya pun tidak kekurangan baju padahal saya sudah mengeluarkan kurang lebih satu dus baju. Untuk baju anak kecil yang ukurannya mini-mini, satu dus itu sudah banyak sekali.

Saya pun melipat baju-baju Sparks Joy anak saya dengan hati-hati. Tantangan tersendiri nih, karena baju anak itu macam-macam sekali bentuknya. Ditambah renda-renda, bunga-bunga dan bordir-bordir kartun yang mau ditampilkan tampak depan supaya kelihatan cantik 😀

Ini contoh lipatan baju, celana dan kaos kaki anak saya.

Foto lemari anak saya before tidak saya share sekarang karena masih berantakan 😀

Suami saya pun heran kenapa baju saya menjadi lebih sedikit. Tapi lagi-lagi, saya tidak merasa kekurangan baju sampai sekarang. Efek sampingnya adalah saya jadi suka buka tutup lemari. Padahal sebelumnya selalu menghela napas berat kalau membuka lemari hehe.

Ada perasaan lega sudah menyingkirkan barang-barang yang tidak Sparks Joy. Saya menjadi semakin mantap melaju ke kategori berikutnya, yaitu buku, kertas, pernak-pernik dan barang sentimental yang siap menanti. Terus terang saya paling deg-degan di bagian Komono alias pernak-pernik. Karena disitu juga saya sering gagal.

Sepertinya saya sudah mulai menentukan “titik pas” jumlah pakaian saya. Mudah-mudahan saya tidak mengalami proses cluttering lagi. Ya, saya harus optimis karena saya ingin memiliki hidup yang lebih tenang dan bahagia. Percayalah, menyimpan barang-barang yang tidak kita sukai itu tidak membawa kebahagiaan sejati.